Sabtu, 17 Juni 2017

Teknis Budidaya Tanaman TEMBAKAU Dengan Pupuk NASA ( 087765430116 )


PENDAHULUAN
     Tembakau (Nicotiana tabacum, L) adalah komoditi yang cukup banyak dibudidayakan petani terutama di negara kita Indonesia. Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal PT. Natural Nusantara berusaha membantu meningkatkan produksi secara Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian Lingkungan (Aspek K-3)

SYARAT TUMBUH
     Tanaman Tembakau, curah hujan rata-rata 2000 mm/tahun. Suhu udara yang cocok antara 21 - 32 derajat Celcius, pH antara 5 - 6. Tanah gembur, remah, mudah mengikat air, memiliki tata air dan udara yang baik sehingga dapat meningkatkan drainase, ketinggian antara 200 - 3.000 m dpl.

PEMBIBITAN
Jumlah benih + 8 - 10 gram/ha, tergantung jarak tanam.
Biji utuh, tidak terserang penyakit dan tidak keriput.
Media semai = campuran tanah (50%) + pupuk kandang matang yang telah dicampur dengan Natural GLIO (50%). Dosis pupuk untuk setiap meter persegi media semai adalah 70 gram DS dan 35 gram ZA dan isikan pada polybag.
Bedeng persemaian diberi naungan berupa daun-daunan, tinggi atap 1 m sisi Timur dan 60 cm sisi Barat.
Benih direndam dalam POC NASA 5 cc per gelas air hangat selama 1 - 2 jam lalu dikeringanginkan.
Kecambahkan pada baki/tampah yang diberi alas kertas  merang atau kain yang dibasahi hingga agak lembab. Tiga hari kemudian benih sudah menampakkan akarnya yang ditandai dengan bintik putih. Pada stadium ini benih baru dapat disemaikan.
Siram media semai sampaia gak basah/lembab, masukkan benih pada lubang sedalam 0,5 cm dan tutup dengan tanah tipis-tipis.
Semprot POC NASA (2-3 tutup/tangki) selama pembibitan berumur 30  dan 45 hari.
Bibit sudah dapat dipindahtanamkan ke kebun apabila berumur 35 - 55 hari setelah semai.
PENGOLAHAN MEDIA TANAM
Lahan disebari pupuk kandang dosis 10 - 20 ton/ha lalu dbajak dan dibiarkan kurang lebih 1 minggu.
Buat bedengan lebar 40 cm dan tinggi 40 cm. Jarak antar bedeng 90 - 100 cm dengan arah membujur antara timur dan barat.
Lakukan pengapuran jika tanah masam.
Siramkan SUPERNASA dengan dosis 10 - 15 botol (250 gr) per hektar
Alternatif 1 : 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 20 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt air diberi 1 peres sendok makan SUPERNASA untuk menyiram bedengan + 10 m.
Sebarkan Natural GLIO 1 - 2 kotak dicampur pupuk kandang matang 25 - 50 kg secara merata ke bedengan.


PEMBUATAN LUBANG TANAM
     Apabila diinginkan daun yang tipis dan halus maka jarak tanam dengan jarak 90 x 70 cm. Tembakau madura ditanam dengan jarak 60 x 50 cm yang penanamannya dilakukan dalam dua baris tanaman setiap gulud. Jenis tembakau rakyat/rajangan umumnya ditanam dengan jarak tanam 90 x 90cm dan penanamannya dilakukan satu baris tanaman setiiap gulud, dan jarak antar gulud 90 cm atau 120 x 50 cm.

CARA PENANAMAN
Basahi dan sobek polybag lalu benamkan bibit sedalam leher akar.
Waktu tanam pagi hari atau sore hari.
PENYULAMAN
     Penyulaman dilakukan 1 - 3 minggu setelah tanam. Bibit kurang baik dicabut dan diiganti dengan bibit baru yang berumur sama.

PENYIANGAN
     Penyiangan dapat dilakukan bersamaan dengan pembumbuan yaitu setiap 3 minggu sekali.

PEMUPUKAN
Dosis tergantung jenis tanah dan varietas.



Ket:
HST = Hari Setelah Tanam
Penyemprotan POC NASA dosis 4 - 5 tutup / tangki atau lebih bagus POC NASA (3 - 4 tutup) dicampur HORMONIK (1 - 2 tutup) per tangki setiap 1 - 2 minggu sekali.
PENGAIRAN & PENYIRAMAN
Pengairan diberikan 7 HST = 1 - 2 liter air per tanaman.
Umur 7 - 25 HST = 3 - 4 liter per tanaman
Umur 25 - 30 HST = 4 liter per tanaman.
Pada umur 45 HST = 5 liter per tanaman setiap 3 hari
Pada umur 65 HST penyiraman dihentikan, kecuali bila cuaca sangat kering

PEMANGKASAN
- Pangkas tunas ketiak daun dan bunga setiap 3 hari sekali.
- Pangkas pucuk tanaman saat bunga mekar dengan 3 - 4 lembar daun di bawah bunga.

PANEN & PASCA PANEN TANAMAN TEMBAKAU
     Pemetikan daun tembakau yang baik adalah jika daun-daunnya telah cukup umur dan telah berwarna hijau kekuning-kuningan. Untuk golongan tembakau cerutu maka pemungutan daun yang baik pada tingkat tepat masak/hampir masak, hal tersebut ditandai dengan warna keabu-abuan. Sedangkan untuk golongan sigaret pada tingkat kemasakan tepat masak/masak sekali, Apabila pasar menginginkan krosok yang halus, maka pemetikan dilakukan tepat masak.
 
     Daun dipetik mulai dari daun terbawah ke atas. Waktu yang baik untuk pemetikan adalah pada sore atau pagi hari pada saat hari cerah. Pemetikan dapat dilakukan berselang 3 - 5 hari, dengan jumlah daun satu kali petik antara 2 - 4 helai tiap tanaman. Untuk setiap tanaman dapat dilakukan pemetikan sebanyak 5 kali.

Sortir daun berdasarkan kualitas warna daun, yaitu:
Trash (apkiran) ==> Warna daun hitam.
Slick (licin / mulus) ==> warna daun kuning muda.
Less slick (kurang licin) ==> warna daun kuning (seperti warna buah jeruk lemon).
More grany side (sedikit kasar) ==> Warna daun antara kuning - oranye.

Order/konsultasi/Reselle Hubungi kami segera di :
Pin BB  :  5C54D630
wa/sms/tlpn : 087765430116  (XL)
Terhubung langsung via WA kami klik link ini goo.gl/EQQvFh
sms/tlpn: 085293672128 (AS)




Selasa, 06 Juni 2017

Budidaya Udang Dengan Produk NASA


A. PENDAHULUAN
Budidaya udang windu di Indonesia dimulai pada awal tahun 1980-an, dan mencapai puncak produksi pada tahun 1985-1995. Sehingga pada kurun waktu tersebut udang windu merupakan penghasil devisa terbesar pada produk perikanan. Selepas tahun 1995 produksi udang windu mulai mengalami penurunan. Hal itu disebabkan oleh penurunan mutu lingkungan dan serangan penyakit. Melihat kondisi tersebut, PT. NATURAL NUSANTARA merasa terpanggil untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut dengan produk-produk yang berprinsip kepada Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).

B. TEKNIS BUDAYA
Budidaya udang windu meliputi beberapa faktor, yaitu :
1. Syarat Teknis

    Lokasi yang cocok untuk tambak udang yaitu pada daerah pantai yang mempunyai tanah bertekstur liat atau liat berpasir yang mudah dipadatkan sehingga mampu menahan air dan tidak mudah pecah.
    Air yang baik yaitu air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26 – 300C dan bebas dari pencemaran bahan kimia berbahaya.
    Mempunyai saluran air masuk/inlet dan saluran air keluar/outlet yang terpisah.
    Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain.
    Pada tambak yang intensif harus tersedia aliran listrik dari PLN atau mempunyai Generator sendiri.

2. Tipe Budidaya.
Berdasarkan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya, tipe budidaya dibedakan menjadi :

    Tambak Ekstensif atau tradisional.
    Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur.
    Tambak Semi Intensif.
    Lokasi tambak sudah pada daerah terbuka, bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3 ha/petakan), padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.
    Tambak Intensif.
    Lokasi di daerah yang khusus untuk tambak dalam wilayah yang luas, ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan udang, padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan yang baik.

3. Benur
Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji kualitas benur dapat dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit. Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.
4. Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan, meliputi :

    Pengangkatan lumpur. Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.
    Pembalikan Tanah. Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.
    Pengapuran. Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 1 ton/ha.
    Pengeringan. Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.
    Perlakuan pupuk TON (Tambak Organik Nusantara). Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik atau masih baru dan 10 botol TON untuk areal tambak yang sudah rusak. Caranya masukkan sejumlah TON ke dalam air, kemudian aduk hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.

5. Pemasukan Air
Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.
6. Penebaran Benur.
Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :

    Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.
    Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.
    Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.
    Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.

7. Pemeliharaan.
Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan TON dengan dosis 1 – 2 botol TON/ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.
Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakuan TON.
Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan TON 1-2 botol/ha. Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.
8. Panen.
Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 – 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.
Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.
C. Pakan Udang.
Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet. Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.
Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.

    Umur 1-10 hari pakan 01
    Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02
    Umur 16-30 hari pakan 02
    Umur 30-35 campuran 02 dengan 03
    Umur 36-50 hari pakan 03
    Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S. (jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).
    Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.

Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.
Untuk meningkatkan pertumbuhan udang, perlu penambahan nutrisi lengkap dalam pakan. Untuk itu, pakan harus dicampur dengan VITERNA Plus dan POC NASA yang mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin dengan dosis 5 cc/kg pakan untuk umur dibwah 60 hari dan setelah itu 10 cc/kg pakan hingga panen.
D. Penyakit.
Beberapa penyakit yang sering menyerang udang adalah :

    Bintik Putih. Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalan budidaya udang. Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang dalam satu kolam dapat mati. Gejalanya : jika udang masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan jika menabrak tanggul langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Virus dapat berkembang biak dan menyebar lewat inang, yaitu kepiting dan udang liar, terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya adalah dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolam budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar udang tidak stress dan daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap mampu hidup sampai cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak tersebut tambak perlu dipupuk dengan TON.
    Bintik Hitam/Black Spot. Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda yang nampak yaitu terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga gejala lain yang tampak yaitu adanya kerusakan alat tubuh udang. Cara mencegah : dengan selalu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak.
    Kotoran Putih/mencret. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran dan gas amoniak dalam tambak. Gejala : mudah dilihat, yaitu adanya kotoran putih di daerah pojok tambak (sesuai arah angin), juga diikuti dengan penurunan nafsu makan sehingga dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kematian. Cara mencegah : jaga kualitas air dan dilakukan pengeluaran kotoran dasar tambak/siphon secara rutin.
    Insang Merah. Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan penebaran kapur pada kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya.
    Nekrosis. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri dalam air tambak. Gejala yang nampak yaitu adanya kerusakan/luka yang berwarna hitam pada alat tubuh, terutama pada ekor. Cara mengatasinya adalah dengan penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah perlakuan TON 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera melakukan ganti kulit (Molting) dengan pemberian saponen atau dengan pengapuran.

Penyakit pada udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam budidaya. Oleh karena itu perlakuan TON sangat diperlukan baik pada saat pengolahan lahan maupun saat pemasukan air baru.
Cara Pemesanan Produk :

    SMS/Telp untuk konfirmasi Pemesanan.
    Kemudian akan dihitung jumlah biaya yang harus ditransfer.
    Transfer biaya pembelian + bea kirim (bila diperlukan) sesuai dengan pemesanan melalui BCA 1692024600 a/n Abror Yudi Prabowo atau BRI 002901000220569 a/n Abror Yudi Prabowo .
    Konfirmasi Nama dan Alamat pengiriman Via HP

Pemesanan Produk NASA Hubungi

Order/konsultasi/Reselle Hubungi kami segera di :
Pin BB  :  5C54D630
wa/sms/tlpn : 087765430116  (XL)
Terhubung langsung via WA kami klik link ini goo.gl/EQQvFh
sms/tlpn: 085293672128 (AS)

Sabtu, 03 Juni 2017

Teknis Budidaya JAGUNG Organik NASA


PERSIAPAN LAHAN


  1. Sangat dianjurkan melakukan olah tanah dan pembuatan drainase sebelum penanaman.
  2. Taburkan dolomit 100 - 200 kg/ha saat pengolahan tanah (sebaiknya 1 - 2 minggu sebelum tanam).


PERSIAPAN BENIH JAGUNG

  1. Kebutuhan benih jagung = 20 - 30 kg per-hektar.
  2. Rendam Benih ===> Rendam bening dalam larutan POC NASA 5 cc / liter selama 12 jam.
  3. Tiriskan dan inokulasikan (campurkan) benih dengan Natural GLIO secukupnya.

PENANAMAN & PEMUPUKAN JAGUNG

  1. Buat lubang tanam dengan jarak tanam 20 x 60 cm atau 25 x 75 cm.
  2. Masukkan 1 benih per-lubang tanam.
  3. Tutup dengan abu sekam basah, atau pupuk kandang matang.
  4. Penyiangan (pendangiran dan pembumbunan dilaukan pada usia 15 - 20 dan 35 - 40 hari setelah tanam
  5. Pemupukan Jagung dengan menggunakan Pupuk NASA ==> Silahkan Klik


  • Aplikasi SUPERNASA dicampur dan dimasukkan lubang pemupukan bersamaan dengan         Urea, TSP, KCl.
  • Usia 15, 30, 45 hst: Semprot POC NASA 5 tutup + HORMONIK 1 tutup + AERO-810             setengah tutup per-tangki volume 15 liter (kebutuhan per aplikasi 20 - 30 tangki per-               hektar)


       6.PENCEGAHAN HAMA ==> Silahkan Klik

  • Semprot PESTONA 5 - 10 tutup / tangki + AER0-810 setengah tutup pertangki (sebaiknya rutin 5 - 10 hari sekali).
  • Semprot Natural BVR 30 gram per tangki (selang seling dengan PESTONA, interval 5 - 10 hari sekali)

PANEN Dan PASCA PANEN

  1. Ciri dan Umur Panen ==> Umur panen 86 - 96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi ppenuh (diameter tongkol 1 - 2 cm), jagung rebus / bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.
  2. Cara Panen ==> Putar tongkol berikut kelobotnya / patahkan tangkai buah jagung.
  3. Pengupasan ==> Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.
  4. Pengeringan ==> Pengeringan jagung dengan sinar matahari _7 - 8 hari) hingga kadar air 9 - 11% atau dengan mesin pengering.
  5. Pemipilan ==> Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.
  6. Penyortiran dan Penggolongan ==> Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangga jamur, hama selama penyimpanan dan menaikkan kualitas panen.
Order/konsultasi/Reselle Hubungi kami segera di :
Pin BB  :  5C54D630
wa/sms/tlpn : 087765430116  (XL)
Terhubung langsung via WA kami klik link ini goo.gl/EQQvFh
sms/tlpn: 085293672128 (AS)

Cara Mengatasi Hama Penyakit Jagung

Semangat pagi...
Kesuksesan petani dalam berbudidaya tanaman apapun tak lepas dari tingkat serangan hama & penyakit yang menyerang pada tanaman, untuk itu harus lebih waspada dan extra hati-hati dalam mengatasinya.



PT. Natural Nusantara memberikan solusi yaitu dengan produk PESTISIDA BIOLOGI yang ramah lingkungan tetapi tepat membunuh sasaran, produk pestisida hayati untuk Budidaya Jagung yang digunakan adalah:


Natural GLIO 100 Gr Rp.42.000,-


Pestona 500cc Rp.59.000,-

HAMA TANAMAN JAGUNG

Lalat Bibit (Atherigona Exigua Stein).

Gejala: warna daun menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan dan menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan mati.

Penyebab: lalat bibit (warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3 - 3,5 mm).

Pengendalian: 

  1. Penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman.
  2. Tanaman yang terseranng segera dicabut dan musnahkan.
  3. Sanitasi kebun.
  4. Semprot dengan PESTONA.


Ulat Pemotong.
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh.

Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armogera).

Pengendalian:

  1. Tanam serempak/pergiliran tanaman.
  2. Cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat dalam tanah)
  3. Semprot dengan PESTONA.


PENYAKIT TANAMAN JAGUNG

Penyakit Bulai (Downy Mildew) 

Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 27°C ke atas serta keadaan udara lembab.

Gejala: 
 Umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih.
Umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi.
Pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.

Pengendalian: 

  1. Penanaman menjelang atau awal musim penghujan; 
  2. Pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; 
  3. Cabut tanaman terserang dan musnahkan; 
  4. Preventif diawal tanam dengan GLIO.


Penyakit Bercak Daun (Leaf bligh).

Penyebab: cendawan Helminthosporium.
Gejala: Daun tampak bercak memanjang dan tteratur berwarna kuning dikelilingi warna coklat. Bercak berkembang meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semua bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning--kuningan, lalu berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat.

Pengendalian: 

  1. Pergiliran tanaman.
  2. Mengatur kondisi lahan tidak lembab.
  3. Preventif diawal dengan Natural GLIO


Penyakit Karat (Rust).

Penyebab: Cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underderw.
Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang.

Pengendalian:

  1. Mengatur kelembaban.
  2. Menanam varientas tahan terhadap penyakit.
  3. Sanitasi kebun
  4. Semprot dengan GLIO.


Penyakit Gosong Bengkak (Corn smut/boil smut)

Penyebab: Cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo madis DC.
Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkaan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar.

Pengendalian:

  1. Mengatur kelembaban
  2. Memotong bagian tanaman yang terkena dan dibakar.
  3. Benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA


Penyakit Busuk Tongkol dan Busuk Biji.

Penyebab: Cendawan fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.
Gejala: Dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang.

Pengendalian:

  1. Menanam jagung varientas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakukan benih
  2. Aplikasikan Natural GLIO di awal tanam.



 Catatan: Jika pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi, dapat digunakan pestisida kimia yang dianjurkan.. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan, tambahkan Perekat-Perata AERO-810 dengan dosis 0,5 tutup botol per-tangki semprot.

Demikianlah artikel tentang cara mengatasi Hama & Penyakit yang sering menyerang tanaman jagung. Semoga bermanfaat membantu semua petani meningkatkan hasil panen. Aamiin,,,

Order/konsultasi/Reselle Hubungi kami segera di :
Pin BB  :  5C54D630
wa/sms/tlpn : 087765430116  (XL)
Terhubung langsung via WA kami klik link ini goo.gl/EQQvFh
sms/tlpn: 085293672128 (AS)

-- 085293672128 --Tips & Trik Pemupukan Pada Tanaman Jagung


PEMUPUKAN UNTUK LUASAN LAHAN 1000m2


  ~~ PUPUK 1~~

Usia 7 hari setelah benih tumbuh

1 botol Supernasa + 1 botol Poc Nasa + 5 kg tsp + 10 kg urea + 5 kg kcl

Larutkan supernasa dengan poc nasa kemudian campur dengan tsp, urea, kcl taburkan secara merata di sekeliling pohon ( pupuk sebaiknya dimasukan ke dalam tanah )

~~PUPUK 2~~

Usia 21 hari

1 botol Poc Nasa + 5 kg tsp + 15 kg urea + 5 kg kcl

Campur dan taburkan di sekeliling pohon


  ~~PUPUK 3~~

Usia 40 hari

1 Poc Nasa + 10 kg urea + 5 kg Za + 10 kg kcl

Campur dan taburkan secara merata di sekeliling pohon

PENYEMPROTAN

Usia 15

Dosis 4 ttp Poc Nasa + 4 ttp Pestona + ½ Aero + 14 liter air

Usia 25

Dosis 6 ttp poc nasa + 1 ttp Hormonik + 6 ttp Pestona + ½ ttp Aero + 14 liter air

Usia 45 hari

Dosis 8 ttp Poc Nasa + 2 ttp Hormonik + 6 ttp Pestona + ½ ttp Aero + 14 liter air


CATATAN:

Penyemprotan dan pemupukan sebaiknya dilakukan sore hari ( pengendalian hama )

5 hari sebelum tanam lahan di beri dolomit 50 kg / 1000 m2

Dosis Pupuk Makro ( Kimia ) Sesuai Rekomendasi Setempat / kebiasaan Petani

Order/konsultasi/Reselle Hubungi kami segera di :

Pin BB  :  5C54D630
wa/sms/tlpn : 087765430116  (XL)
Terhubung langsung via WA kami klik link ini goo.gl/EQQvFh
sms/tlpn: 085293672128 (AS)

Pemupukan Praktis Dengan Pupuk NASA Pada Sengon Jati Jabon


Panduan Pemupukan Praktis Pada Tanaman Perkebunan (Jati, Sengon, Mahoni, Jabon, Akasia) Dengan Menggunakan Pupuk Organik NASA Serta Perkiraan Biayanya:

1. PEMBIBITAN / PRA TANAM
Jarak Tanam: 3 x 2,5 : 1.400 bibit + 600 bibit untuk sulam apabila ada tanaman yang mati
Total bibit: 2.000 bibit untuk luas lahan 1 Hektar
Dosis Pemupukan:
HORMONIK: 1 tutup + 2 Liter Air untuk -+ 500 Bibit, Jadi 1 hektar ~~ 2.000/400 = 4 tutup botol Hormonik
POC NASA: 3 tutup + 2 Liter Air untuk -+ 500 Bibit, jadi 1 hektar 2.000 /500 x 3 = 12 tutup botol Poc Nasa
Jadi kebutuhan pupuk saat pra tanam adalah cukup 1 botol POC NASA Kecil (100 cc) dan 1 botol HORMONIK (100cc)
2. BIBITAN POLYBAG
Dosis: 3 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK pertangki untuk 3 meter2 (-+ 700 bibit)
Lahan 1 Ha = 2.000 : 700 = 2,8 Tangki ~~ 3 Tangki semprot
POC NASA =  3 tangki x 3 tutup ~~ 9 Tutup Poc Nasa
HORMONIK = 3 tangki x 1 tutup ~~ 3 tutur Hormonik
Jika dalam 1 minggu 2x semprot, maka total pemakaian sejumlah: 18 tutup Poc Nasa dan 6 tutup Hormonik
Maka dalam 1 bulan Poc Nasa 72 tutup ~~ 2 botol Poc Nasa
Hormonik 24 tutup ~~ 3 botol
3. PENANAMAN DI LAHAN
    Pengocoran
Dosis: 1 sendok SUPERNASA + 10 liter air ~~ -+ 5 pohon
Lahan 1 Ha ~~ 1.400 : 5 = 280 sendok SPRK ( 1 botol SPRK = -+ 20 sendok)
Kebutuhan SPRK (250 gr) = 280 : 20 = 14 botol/ha/aplikasi
Dalam 1 tahun pemupukan dilakukan sebanyak 3x aplikasi yaitu 4 bulan 1x sesuai dengan kebutuhan
Jadi untuk 1 tahun ~~ 3 x 14 botol = 42 botol SPRK
     Penyemprotan
Dosis: 4 tutup POC NASA + 1 Tutup HORMONIK pertangki (-+ 14 liter) untuk 20 pohon
Lahan 1 Ha ~~ 1.400 : 20 = 70 tangki
POC NASA ~~ 70 x 4 tutup = 280 tutup
HORMONIK ~~ 70 x 1 tutup = 70 tutup
Penyemprotan dilakukan sebulan 1x, jadi dalam 1 tahun dibutuhkan:
POC NASA ~~ 280 tutup x 12 = 3.360 tutup ~~ -+ 8 botol POC NASA (500cc)
HORMONIK ~~ 70 tutup x 12 = 870 tutup ~~ -+ 9 Botol
4. PENGGUNAAN NPK Umur 1 Tahun
Dosis: 100 gr NPK per pohon diberikan bersamaan SUPERNASA
Lahan 1 Ha ~~ 1.400 x 100 gr = 140 Kg NPK
Pemupukan NPK dilakukan setahun 2 kali yaitu pada awal dan akhir musim hujan
Jadi kebutuhan NPK pertahun ~~ 2 x 140 Kg = 280 Kg NPK
5. PENGENDALIAN HAMA (Ulat, Penggerek Batang, Kutu-kutuan)
Dosis: 5 - 10 tutup PESTONA pertangki (-+14 liter)
Asumsi 1 tangki untuk 20 pohon
Lahan 1 Ha ~~ 1.400 : 20 = 70 tangki x 5 - 10 tutup Pestona = 350 - 700 tutup PST ( 1 - 2 botol Pestona per aplikasi)
Penyemprotan dilakukan 1 bulan sekali sesuai dengan keadaan serangan hama
Jadi dalam setahun dibutuhkan 12 botol PESTONA